Jumat, 06 Desember 2013

DEMOKRASI MENURUT TJOKROAMINOTO



DEMOKRASI  menurut H.O.S tjokroaminoto
Penjajahan di Indonesia yang menimbulkan penindasan dan diskriminasi menyediakan kontekstual yang tepat bagi idiologi islam dalam haluan demokrasi sosialis. Tjokroaminoto dan rekan di serikat islam (SI)nya agoes salim yang memformulasikan “Sosialisme Islam”. Dalam kongres pertama di Cirebon (31 Oktober-2November 1992) sosialisme islam merupakan isu utama yang dibahas di dalam kongres.
Tjokro menguraikan korelasi antara islam dan sosialis. Pertama, dia menguraikan sosialisme yang ada di dalam ajaran islam, kedua  dia berusaha untuk menguraikan perintah islam yang bersifat social, ketiga, islam mengaajurkan untuk saling membantu terhadap siapa pun yang membutuhkan pertolongan, keempat prinsip persamaan, persaudaraan,dan kemerdekaan yang di ajarkan oleh nabi Muhammad SAW. Dalam uraian tersebut, dia mengutip ayat al-quran yang berbunyi “kaana al-nasu ummatan wahidah”(manusia adalah umat yang satu). Dalam tafsiran pandangan tersebut perikemanusiaan adalah satu persatuan, oleh karena itu tidak hanya kebahagiaan individu akan tetapi kebahagiaan kolektif(bersama). Untuk memperkuat argumennya Tjokro pun mengutip”telah diciptakan dari seorang laki-laki dan perempuan dan tuhan telah memisahkan menjadi golongan-golongan dan suku-suku agar saling mengetahui satu sama lainnya.”Dalam kutipan diatas menandakan bahwa perbedaan bukanlah sebuah penghalang tali persaudaraan umat manusia. Semua manusia di hadapan tuhan setara, keculi yang bertakwa dan yang bertakwa hanya tuhanlah yang sanggup menilai.
Setelah menguraikan islam yang memiliki nilai sosialis, Tjokro juga menguraikan ibadah yang mempunyai nilai sosialis yaitu salat jumat dan ibadah haji setiap tahunnya. Dalam peribadatan tersebut tuhan tidak melihat perbedaan bagi hambanya, semua dalam kesetaraan manusiawi.Selain ibadah di atas, sedekahpun mengandung nilai social yaitu memberikan terhadap orang yang membuhkannya.
Lebih dari itu pandangan tjokro terhadap revolusi perancis(liberte, egalite, islam jauh lebih revolusioner sejak abad kedelapan belas.
Akhirnya Tjokro mengidealiskan demokrasi social sebagai alat perjuangan muslim.
Jika kita, kaum muslim, benar-benar memahami dan secara sungguh-sungguh melaksanakan ajaran islam pastilah menjadi para democrat dan sosialis sejati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar