DEMOKRASI menurut H.O.S tjokroaminoto
Penjajahan di
Indonesia yang menimbulkan penindasan dan diskriminasi menyediakan kontekstual
yang tepat bagi idiologi islam dalam haluan demokrasi sosialis. Tjokroaminoto
dan rekan di serikat islam (SI)nya agoes salim yang memformulasikan “Sosialisme
Islam”. Dalam kongres pertama di Cirebon (31 Oktober-2November 1992) sosialisme
islam merupakan isu utama yang dibahas di dalam kongres.
Tjokro
menguraikan korelasi antara islam dan sosialis. Pertama, dia menguraikan sosialisme
yang ada di dalam ajaran islam, kedua
dia berusaha untuk menguraikan perintah islam yang bersifat social,
ketiga, islam mengaajurkan untuk saling membantu terhadap siapa pun yang
membutuhkan pertolongan, keempat prinsip persamaan, persaudaraan,dan
kemerdekaan yang di ajarkan oleh nabi Muhammad SAW. Dalam uraian tersebut, dia
mengutip ayat al-quran yang berbunyi “kaana al-nasu ummatan wahidah”(manusia
adalah umat yang satu). Dalam tafsiran pandangan tersebut perikemanusiaan
adalah satu persatuan, oleh karena itu tidak hanya kebahagiaan individu akan
tetapi kebahagiaan kolektif(bersama). Untuk memperkuat argumennya Tjokro pun
mengutip”telah diciptakan dari seorang laki-laki dan perempuan dan tuhan telah
memisahkan menjadi golongan-golongan dan suku-suku agar saling mengetahui satu
sama lainnya.”Dalam kutipan diatas menandakan bahwa perbedaan bukanlah sebuah
penghalang tali persaudaraan umat manusia. Semua manusia di hadapan tuhan
setara, keculi yang bertakwa dan yang bertakwa hanya tuhanlah yang sanggup
menilai.
Setelah
menguraikan islam yang memiliki nilai sosialis, Tjokro juga menguraikan ibadah
yang mempunyai nilai sosialis yaitu salat jumat dan ibadah haji setiap
tahunnya. Dalam peribadatan tersebut tuhan tidak melihat perbedaan bagi
hambanya, semua dalam kesetaraan manusiawi.Selain ibadah di atas, sedekahpun
mengandung nilai social yaitu memberikan terhadap orang yang membuhkannya.
Lebih
dari itu pandangan tjokro terhadap revolusi perancis(liberte, egalite, islam
jauh lebih revolusioner sejak abad kedelapan belas.
Akhirnya
Tjokro mengidealiskan demokrasi social sebagai alat perjuangan muslim.
Jika kita, kaum muslim,
benar-benar memahami dan secara sungguh-sungguh melaksanakan ajaran islam
pastilah menjadi para democrat dan sosialis sejati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar