Kamis, 20 Februari 2014

GANYANG MALAYSIA




GANYANG MALAYSIA

Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namaun kalau kita lapar dan malu karna Malaysia, itu kurang ajar !
Kerahkan pasukan ke Kalimantan, hajar cecunguk malayan itu !
Pukul dan sikat
Jangan sampai tanah kita di injak-injak oleh Malaysian keparat itu.
Doakan aku
Akukan berangkat ke medan juang sebagai patriot bangsa
Sebagai martir bangsa
Dan sebagai peluru bangsa yang tak mau di injak-injak harga dirinya.
Serukan
Serukan ke pelosok negri
Bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini
Kita akan membalas perlakuan ini
Dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat
Dan kita juga masih memiliki martabat.
Yoooo…..aayyyyoooo…kita….ganyang….
Ganyang….. Malaysia…..
Ganyang…. Malaysia……
Bulatkan tekad semangat kita baja
Peluru kita banyak
Nyawa kita banyak
Bila perlu satu-satu!

GANYANG MALAYSIA




GANYANG MALAYSIA

Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namaun kalau kita lapar dan malu karna Malaysia, itu kurang ajar !
Kerahkan pasukan ke Kalimantan, hajar cecunguk malayan itu !
Pukul dan sikat
Jangan sampai tanah kita di injak-injak oleh Malaysian keparat itu.
Doakan aku
Akukan berangkat ke medan juang sebagai patriot bangsa
Sebagai martir bangsa
Dan sebagai peluru bangsa yang tak mau di injak-injak harga dirinya.
Serukan
Serukan ke pelosok negri
Bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini
Kita akan membalas perlakuan ini
Dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat
Dan kita juga masih memiliki martabat.
Yoooo…..aayyyyoooo…kita….ganyang….
Ganyang….. Malaysia…..
Ganyang…. Malaysia……
Bulatkan tekad semangat kita baja
Peluru kita banyak
Nyawa kita banyak
Bila perlu satu-satu!

GANYANG MALAYSIA




GANYANG MALAYSIA

Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namaun kalau kita lapar dan malu karna Malaysia, itu kurang ajar !
Kerahkan pasukan ke Kalimantan, hajar cecunguk malayan itu !
Pukul dan sikat
Jangan sampai tanah kita di injak-injak oleh Malaysian keparat itu.
Doakan aku
Akukan berangkat ke medan juang sebagai patriot bangsa
Sebagai martir bangsa
Dan sebagai peluru bangsa yang tak mau di injak-injak harga dirinya.
Serukan
Serukan ke pelosok negri
Bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini
Kita akan membalas perlakuan ini
Dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat
Dan kita juga masih memiliki martabat.
Yoooo…..aayyyyoooo…kita….ganyang….
Ganyang….. Malaysia…..
Ganyang…. Malaysia……
Bulatkan tekad semangat kita baja
Peluru kita banyak
Nyawa kita banyak
Bila perlu satu-satu!

Jumat, 14 Februari 2014

POSISI INDONESIA DALAM KONTEKS PERANG DINGIN



POSISI INDONESIA DALAM KONTEKS PERANG DINGIN
Memasuki suasana perang dingin, ketika poros-poros ketegangan menghadirkan tekanan hitam putih yang mengarah pada permusuhan dan peperangan antarbangsa, Indonesia berusaha konsisten dengan prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab dalam pergaulan bangsa-bangsa. Prinsip yang menjunjung tinggi kemerdekaan sebagai hak setiap bangsa dan warganya, serta prinsip yang menekankan koeksistensi damai yang secara arif” ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan social”. Prisip ini sejalan dengan visi dan tujuan dari piagam PBB sebagaimana yang telah disebutkan.
Dalam konteks ini, prinsip kemanusiaan menurut alam pemikiran Pancasila menjadi sintesis antara pendukung ajaran declaration of American independence dan manifesto komunis. Dalam pidato Soekarno di PBB, pada 30 September 1960,” To Build the World Anew” yang memperkenalkan Pancasila kepada dunia, dia menyangkal pendapat seorang filsuf Inggris, Bertnant Russel, yang membagi dunia atas dua poros bagian itu.” Maaf Russel, saya kira anda melupakan adanya lebih dari seribu juta rakyat, rakyat Asia Afrika dan mungkin pula rakyat Amerika latin yang tidak menganut ajaran Manifesto komunis ataupun Declaration of independence”. Selanjutnya ia katakan bahwa Indonesia tidak di pimpin oleh kedua paham itu.  Dari pengalaman kami sendiri dan dari sejarah bangsa kami sendiri sesusatu tumbuh, yang lantas lebih cocok, yang kami namakan Pancasila, suatu gagasan dan cita-cita itu, sudah terkandung dalam bangsa kami ribuan tahun yang lalu sebelum imperialisme menenggelamkan kami pada saat kelemahan nasional. (Soekarno)
Sementara itu Hatta dalam pidatonya, Mendayung diantara Dua Karang. Dia menyimpulkan bahwa pro kontra terhadap kedua persetujuan antara pemerintahan Indonesia yang baru merdeka dan pemerintah belanda itu, menggambarkan begitu konkrit dinamikapolitik internasionalyang di warnai pertentangan politik antara dua adikuasa, AS da US.
Pilihan untuk mendayung di antara dua karang ini mendorong Indonesia untuk berperan aktif dalam mempromosikan gerakan “non blok” di perkenalkan oleh Perdana Mentri India Nehru dalam pidatonya tahun 1954 di Colombia, Sri Lanka, namun gerekan non blok sendiri bermula Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika yang diadakan di bandung pada tahun 1955.dalam konfrensi ini diikuti 29 negara yang mewakili lebih dari setengah total penduduk dunia saat itu, mendeklarasikan keinginan mereka untuk tidak terlibat dalam konfrontasi blok barat atau timur. Pendiri dari gerakan ini dari lima pemimpin besar dunia : Soekarno, Josep broz tito(Yugoslavia), G. Abd. Nasser(mesir), Jawaharlal Nehru(India), dan Kwame Nkrumah(Gana).
Gerakan non blok ini didirikan berdasarkan sepuluh prinsip dasar yang di sepakati dalam KTT Asia-Afrika yang di kenal dengan sebutan Dasasila Bandung. Kesepuluh prinsip itu adalah:
1.      Menghormati hak-hak dasar manusiadan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB.
2.      Menghormati kedaulatan dan integritas territorial semua bangsa.
3.      Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar atau kecil.
4.      Tidak melakukan campur tangan atau intervensi dalam persoalan-persoalan dalam negri negara lain.
5.      Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri sendiri secara sendirian maupun kolektif, yang sesuai dengan piagam PBB.
6.      (a) Tidak menggunakan peraturan-peraturan dan pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara-negara besar, (b) tidak melakukan campur tangan terhadap negara lain.
7.      Tidak melakukan tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas territorial atau kemerdekaan politik suatu bangsa.
8.      Menyelesiakan segala perselisihan internasional dengan cara damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi, atau penyelesaian masalah hokum, ataupun lain-lain cara damai, menurut pilihan pihak-pihakyang bersangkutan, yang sesuai dengan piagam PBB.
9.      Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama.
10.  Menghormati hokum dan kewajiban-kewajiban internasional.
Pilihan Indonesia atas politik luar negri bebas aktif itu menempatkannya dalam perpaduan antara perspektif teori “idealism politik” dan “realism politik” dalam hubungan internasional. Keyakinan Indonesia, seperti tertuang dalam UUD 1945, bahwa kemerdekaan ialah hak segala bangsa serta kemungkinan menjalin kerjasama internasional dalam mengupayakan kemerdekaan, kebaikan, perdamaian, keadilan dan kesejahtraan bersama, membawa politik bebas aktif  bertautan dengan ideal-ideal para pendukung perspektif “idealism politik”.
    Singkatnya ketegangan dalam kehidupan nasional yang bertautan dengan ketegangan internasional lantas di proyeksikan kedalam sikap internasionalisme Indonesia. Memandang kemerdekaan Malaisya sebagai antek neo-kolonialisme, Presiden Soekarno lantas melancarkan konfrontasi Indonesia-malaisya, sebuah perang mengenai masa depan pulau Kalimantan, antara tahun 1962-1966. Ketika PBB menerima malaisya sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, Presiden Soekarno menarik Indonesia dari keanggotaan PBB pada 20 Januari 1965, dan sebagai alternatifnya membentuk poros kekuatan baru dalam rangka Conference of New Emerging Forces (conefo). Sebagai tandingan olimpiade, Soekarno bahkan menyelenggarakan GANEFO ( games of the new emergering forces) yang di selenggarakan di Jakarta pada 10-22 November 1963. Kembalinya Indonesia ke PBB baru setelah Presiden Soeharto mengambil alih tongkat kepemimpinan nasional. Pada 19 September 1966, Indonesia mengajukan permohonan kembali sebagai anggota yang di terima oleh majelis umum PBB sejak 28 September 1966.
SEMOGA BERNMANFAAT………………..
(Yudi Latif: Negara Paripurna)